Minggu, 14 Agustus 2016

Review Album The Next Chapter - Gita Gutawa ( Dewi Anggriani )

Alunan Nada Gita Gutawa




Setelah lama tidak terdengar kabarnya, kini Aluna Sagita Gutawa atau yang biasa kita kenal dengan nama Gita Gutawa, sudah meluncurkan album terbarunya berjudul “The Next Chapter”. Album ini dirilis tahun 2014. Proses panjang sudah dilalui Gita Gutawa untuk bisa seperti sekarang. Banyak belajar dari sang ayah, menjadi bekal bagi dirinya untuk mandiri. 4 tahun mencoba menciptakan lagu dan mengaransemen musik sendiri, akhirnya membuahkan hasil.

Album ini lebih menekankan pada tema percintaan. Bahkan, kabarnya 9 dari 11 lagu yang ada di album ini merupakan lagu ciptaan Gita sendiri dan berdasarkan pengalaman pribadi Gita Gutawa. Sama seperti album-album sebelumnya, album The Next Chapter ini bergenre pop. Di album ini, lagu utamanya yaitu Rangkaian Kata dan Hingga Akhir Waktu. Tetapi diantara kedua lagu tersebut, saya sendiri lebih suka dengan lagu yang berjudul Rangkaian Kata. Karena lagu Hingga Akhir Waktu pernah dipopulerkan sebelumnya oleh salah satu band Indonesia. Meskipun music dan nadanya diubah, tetapi saya merasa bosan dengan lirik dari lagunya.

          Cover pada album The Next Chapter dipilih oleh Gita sendiri seperti apa gambar cover yang diinginkannya. Cover pada album ini terllihat simple dan tidak terlihat terlalu mencolok. Cover The Next Chapter adalah lukisan wajah dewasa Gita Gutawa.

          The Next Chapter  menjadi karya yang bisa melepaskan bayang-bayang sang ayah di karir gadis cantik ini. Dan di sini Gita puas untuk memberikan konsep sesuai dengan seleranya.

Dewi Anggriani Riyanto.P

XII – MIPA 3

Review Album Purpose - Justin Bieber ( Azalika Anjani )


​                                         -Album Review-

Artis : Justin Bieber
Album : Purpose
Genre : Pop, Electronic Dance, Dance – Pop
Tahun : 2015

Dalam jangka waktu tiga tahun, Justin Bieber telah berubah dari anak kecil yang tadinya selalu bermasalah dengan media menjadi lelaki dewasa. Sekarang, pria berumur 22 tahun ini meminta maaf lewat album terakhirnya yang berjudul Purpose. Ia sadar bahwa kelakuanya selama ini tidak direspon baik oleh para netizen.

Purpose Album adalah album terbaru dari Justin yang dikeluarkan oleh Def Jam Record & School Boy Records pada 13 November, 2015. Justin cukup melibatkan banyak produser terkenal dalam album ini seperti Usher, Dj Srillex, Dj Diplo, dll.

Album ini mendapat banyak nominasi. Salah satu awards yang ia terima adalah Juno Award, Pop Album Of The Year. Album ini adalah album dengan angka penjualan lebih dari satu juta copy menurut Nielsen Music. Album ini juga menjadi album dengan penjualan terbesar dalam beberapa minggu di tahun 2015 menurut Billboard dan sempat menduduki peringkat pertama dalam Billboard 200 chart.

Album yang berdurasi sekitar 48 menit ini membawa banyak respon positif dari kalangan masyarakat. Banyak yang merubah pendapatnya setelah mendengarkan album ini. Salah satu lagunya yang cukup terkenal adalah “sorry” dan “where are U now”.

Dari cover albumnya, terlihat sekali bahwa Justin sudah dewasa. Lagu-lagunya juga sangat menarik karena terdiri dari beberapa genre. Lirik dari album ini juga menarik karena berhubungan dengan kehidupan remaja sehari-hari dan mudah dicerna.

Jadi menurut saya, keseluruhan album ini sangat menarik. Selain dari isinya, sejarahnya juga menarik perhatian. Salah satunya adalah ia merekam 18 lagu di negara yang berbeda.


(Azalika Andjani; XII IPA 3)

Sabtu, 13 Agustus 2016

Review Album De Tourn - The SIGIT ( Bagas Adhi )

The S.I.G.I.T. adalah satu dari sekian band indie indonesia yang punya kualitas bagus dalam musiknya. The SIGIT merupakan band indie asal bandung, yang dibentuk pada tahun 1997 ketika para personelnya masih duduk di bangku SMA. Nama The S.I.G.I.T itu sendiri baru dipakai pada tahun 2002.

The S.I.G.I.T. bukanlah nama dari seorang personilnya (yang memang lazimnya nama Sigit adalah nama orang) atau singkatan dari nama para personilnya, namun The S.I.G.I.T merupakan singkatan dari “The Super Insurgent Group of Intemperance Talent”.

Saya akan membahas tenntang album keduanya yg berjudul Detourn. Tidak perlu repot-repot mencari arti kata Detorn. Nikmati saja musiknya. Karena ini adalah obat pencahar rindu yang sudah terlalu. Anak hilang yang kembali ke rumah mungkin merupakan cerita yang cocok untuk menggambarkan pulangnya empat laki-laki anggota The SIGIT ini.

Empat orang sosok berkarakter kuat di band ini: Rektivianto Yoewono, Farri Icksan Wibisana, Acil Armando dan Aditya Bagja Mulyana, telah terlalu lama mengembara sesuka hati. Mereka melukis banyak sekali potongan gambar sekaligus mencoba berbagai macam variasi hidup selama beberapa tahun terakhir ini; meruntuhkan pola-pola lama menjadi band rock di atas panggung dengan berdandan sesuka hati, meletakkan posisi main seenak jidat dan bahkan tetap membuat orang terkesima dengan lagu-lagu lama mereka yang sudah terlalu lama dimainkan secara berulang.

Cerita mereka bertambah seiringnya proses penuaan usia diri mereka. Daftar panjang kota-kota yang disinggahi semakin banyak, beberapa bahkan layak mendapat sematan reguler lantaran sudah terlalu sering disibggahi. Berbagai macam ekspresi emosi pernah terekam.

Setelah lelah berjalan melukis cerita mereka, mereka seolah disadarkan bahwa akan kewajiban yang begitu kasat mata untuk mnyelesaikan proyek berikutnya. Jika itu perlu waktu nyaris tujuh tahun, biarlah. Toh, apa yang ada di depan mata sekarang ini sudah nyata; bukan lagi janji-janji omong kosong tentang ide-ide yang bisa dimuntahkan tapi tidak pernah bisa ditagih perwujudannya lewat komitmen waktu. Lebih besar lagi, ada banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi. Seluruh penjurunya sudah berteriak untuk dijamah dan diperhatikan.

Detourn adalah sebuah bekal kuat yang dikandung sekian lama dan sekarang telah disalinkan dengan selamat ke muka bumi. Tentunya, ia dibuat dengan segudang usaha keras, tambahan asupan amunisi yang diperoleh dari titik-titik kecil yang ditemui di perjalanan dan substansi yang dikontribusikan alam raya dalam bentuk  garis tangan yang berliku; ada macam-macam cerita yang mengiringi proses pembuatan album ini. Ia berhasil menjelma menjadi paket komplit yang diperlukan oleh sebuah album rock untuk bisa dikategorikan bagus. Ia juga masuk dengan baik ke logika berpikir standar tentang bagaimana sebuah kumpulan musik bagus yang layak dikenang dan disebarluaskan.


Detourn dimulai dengan kemegahan suara organ pipa yang terdengar. Ada rasa pemberitahuan dari bebunyian tersebut, jika sangkakala ditiup untuk memberitahukan kabar buruk, organ pipa pada lagu pembuka “Detourn” ditekan untuk menandakan dimulainya kabar baik berupa cipta terbaru vokalis sekaligus gitaris Rektivianto Yoewono, gitaris Farri Icksan Wibisana, bassist Aditya Bagja Mulyana, dan drummer Donar Armando Ekana yang dinanti penggemar mereka sejak lama.

Penggunaan alat tiup adalah salah satu aspek yang membuat Detourn berbeda dengan Visible Idea of Perfection(album pertamanya), dan ini langsung ditunjukkan pada lagu pertama. “Detourn” bermula garang seperti lagu khas The S.I.G.I.T. namun berubah tiba-tiba dengan progresi yang bertumpu pada tiupan saksofon. Itu hanyalah satu dari sekian banyak manuver terorkestrasi dengan ketelitian tingkat super yang ada pada Detourn.

The SIGIT – Detourn

Tahun rilis: 2013

Track list:
01. Detourne
02. Let the Right One In
03. Son of Sam
04. Gate of 15th
05. Tired Eyes
06. Owl & Wolf
07. Black Summer
08. Red Summer
09. Ring of Fire
10. Cognition
11. Conundrum

Review Album 1989 - Taylor Swift ( Aurel Mutiara Fembi )

Metamorfosis Taylor Swift di Album ‘’1989’’



Setelah absen dua tahun tanpa mengeluarkan satu album pun, penyanyi country asal Nashville, Tennessee, Taylor Swift kini kembali memeriahkan industry music bukan saja Amerika Serikat melainkan juga dunia. Album kelimanya dengan tajuk yang diadaptasi dari tahun kelahirannya, 1989, ini memiliki 13 lagu yang juga masih ditulis oleh Taylor Swift dengan bantuan teman-temannya. Lagu-lagu di album ini adalah Welcome to New work, Blank Space, Style, Out of The Woods, All You Had to Do Was Stay, Shake It Off, I Wish You Would, Bad Blood, Wildest Dreams, How You Get The Girl, This Love, I Know Places, dan Clean.

Melalui album kelimanya, Taylor menunjukkan pada fans-nya dan para penikmat music bahwa dia yang sekarang bukanlah Taylor yang dulu. Hal ini terlihat jelas pada perubahan genre musiknya. Genre musik pada semua lagu di album 1989 ini bukan lah genre country yang menjadi ciri khas dan membuat namanya melejit. Album ini sejatinya menganut genre pop yang lebih mengarah pada syntpop atau technopop. Artinya, pada album ini Taylor mentransformasikan dirinya sebagai penyanyi pop.

Adanya keinginan Taylor untuk berpindah haluan ke music pop sebenarnya sudah dapat diidentifikasi dari album-album sebelum 1989 yakni Fearless, Speak Now, Red. Ketiga album ini sendiri memiliki genre music country pop. Adanya kata ‘’country’’ pada ketiga album ini menyebabkan ia tetap dikenal sebagai penyanyi country dan meraih berbagai nominasi sebagai penyanyi country pada berbagai acara penghargaan musik.

Selain adanya perubahan pada genre music di album 1989, dapat kita lihat juga bahwa Taylor mencoba untuk membentuk image dirinya yang baru. Ini terlihat jelas dari beberapa lagu yang ada mencoba menujukkan bahwa Taylor bukanlah gadis yang lemah sebagaimana dia citrakan pada album-album sebelumnya.

Beberapa lagunya seperti Shake It Off dan Blank Space memberi penekanan bahwa ia kini telah menjadi wanita berbeda yang dapat dilihat dari lirik pada lagu-lagu tersebut. Secara umum, lagu-lagu pada album 1989 ini masih didominasi dengan tracks bertemakan percintaan dari yang manis sampai yang pahit.

Perubahan-perubahan pada diri music Taylor Swift ini tentunya menimbulkan kekecewaan maupun kepuasan dari fansnya. Hal ini terbukti dari hasil penjualan album 1989 yang melebihi ekspektasi sang penyanyi dan juga lagu-lagunya mendominasi Billboard Hot 100. Tidak terkecuali lagu Shake It Off yang masih Berjaya di chart nomor 1 Billboard Hot 100.


Aurel Mutiara Fembi
XII MIPA 3

Review Album Xignature - Xia Junsu ( Ariana Putri )

Artis : Xia Junsu

Album : Xignature

Setelah sekian lama ikut mengisi bagian dari soundtrack drama seperti Six Flying Dragon dan Descendant Of The Sun, Xia Junsu akhirnya merilis album ke empatnya pada tanggal 30 Mei 2016 yang berjudul “Xignature”.

Album artnya cukup simpel dan pemilihan warnanya tidak terlalu mencolok. Genre-genre yang mengisi album ini cukup bervariasi seperti hip-hop, EDM, Ballad, Urban, dan Tango sehingga tidak terlalu monoton dan membosankan.

Saat menyanyikan lagu bergenre EDM suaranya cukup energik walaupun terasa ada yang kurang. Namun seperti biasa, lagu ballad yang dinyanyikan oleh Junsu selalu terdengar menawan. Vokalnya yang lembut selalu menjadi daya tarik utama namun agak sedikit membosankan. Mungkin karena aransemen lagunya yang cenderung sama dengan lagu-lagu pendahulunya.

Dibandingkan album-album yang rilis sebelumnya seperti Tallantalegra, Incredible, dan Flower, rasanya ada yang kurang dari album ini. Entah karena aransemen lagunya maupun liriknya yang kurang mendalam.

Walaupun begitu, album ini pantas untuk dicoba mengingat sebentar lagi Xia Junsu akan memasuki wajib militer dan membuatnya sementara waktu vakum dari dunia hiburan.

Review Album SHINee World - SHINee ( Annisa Asya Asmarani )

The SHINee World




Pada tahun 2008 Indonesia menjadi salah satu negara yang menggandrungi Korea, mulai dari serial drama, tv show, dan musik. Salah satu boyband yang terkenal pada saat itu adalah SHINee. Boyband ini merupakan boyband baru asuhan SM Entertainment yang debut di tahun 2008, beranggotakan lima personil dan aliran musik SHinee adalah R&B Kontemporer.
Setelah sukses dengan mini album  Replay pada pertengahan tahun 2008, SHInee kembali mengeluarkan album lengkap pertamanya berjudul “The SHINee World” pada Agustus 2008. Album ini langsung memasuki peringkat ke-3 tangga album di Korea dan terjual sebanyak 30.000 kopi. Pada akhir September 2008 album ini terjual sebanyak 49.864 kopi. 
Album ini terdiri dari 12 lagu dan lagu yang menjadi lead songnya adalah Love Like Oxygen (Sanso Gateun Neo). Dalam album ini, SHINee memasukkan kembali lagu Replay yang pernah dirilis di album sebelumnya. Hampir semua lagu di dalam album ini bertema tentang cinta. Perbedaannya album ini dengan album sebelumnya adalah genre pada album ini lebih mengarah ke lagu ballad RnB yang mellow dibandingkan album SHINee sebelumnya yang lebih RnB dan ceria.
Sebagai penggemar boyband SHINee saya tetap menyukai lagu lagu di album ini walaupun tidak semuanya saya suka. Personally, saya lebih menyukai mini album sebelum album ini dan album-album SHINee yang dirilis setelah album ini seperti Dream Girl, Odd, Lucifer dll yang musiknya lebih RnB lagi musiknya dan memiliki ciri khas dari boyband ini. 
Kelebihan dari album ini adalah lagu yang dinyanyikan lebih memberi kesan mendalam ke pendengarnya dan semua pesan yang ingin disampaikan ke pendengar dapat dengan baik tersampaikan oleh penyanyi melalui cara menyanyi mereka yang berbeda-beda. 
Untuk cover pada album ini kurang menarik karena warnanya yang mencolok dan kurang serasi dengan “kliping” gambar pada anggota shine, menurut saya harusnya di beri warna ungu atau warna dasar seperti hitam,putih atau, emas atau warna lain yang sesuai dengan warna kliping gambar di cover tersebut, mengingat aliran music dari shinee sendiri adalah R & B dan menurut saya warna-warna tersebut mewakili R&B.
Cukup sekian review dari saya, apa bila teman teman pembaca menemukan kelebihan atau kekurangan yang belum saya sebutkan pada rivew di atas kalian bisa menambahkannya di komlom komentar di bawah, terimakasih 
Annisa Asya Asmarani
XII MIPA 3

Review Album Four - One Direction ( Anjali Detha )

“The Last Album Before Zayn left”

Album : Four

Lagu :

1.     Steal my girl                                           9.  Fireproof
2.     Ready to run                                          10. Spaces
3.     Where do broken hearts go                   11. Stockholm syndrome
4.     18                                                          12. Clouds
5.     Girl almighty                                        13. Illusion
6.     Fool’s gold                                            14. Change your ticket
7.     Night chang                                          15. Once in a lifetime
8.     No control                                             16. Act my age



Four menjadi kata yang dipakai untuk judul album keempat One Direction. Sepertinya prinsip yang digunakan oleh Syco dan Columbia masih sama: satu album tiap tahun. Album ini dirilis secara internasional pada 17 November 2014. Tentu dengan serimonial tersebut, menandai pula musim baru untuk tour internasional boyband bentukan X-Factor ini.
Dalam kemasan reguler, Four terdiri dari 12 lagu. Hal yang membedakan dari album-album mereka sebelumnya, di sini kesan “keras” lebih kentara, meski secara umum genre pop-rockmasih yang ditonjolkan. Four menjadi semacam suksesi dari album ketiga, Midnight Memories, untuk musik yang ditawarkan.

Dari segi sampul, Four menjadi album One Direction yang paling polos. Hanya menampilkan dua foto atas bawah, lalu di tengahnya tertempel tulisan One Direction serta kata FOUR ber-background hitam. Tidak ada perlakuan desain khusus, benar-benar plain. Bahkan pose yang ditampilkan pun standar. Untungnya, kemasan sampul yang biasa saja tidak membuat isinya juga menjadi cukup biasa. Album ini dapat dibagi menjadi tiga bagian apabila dinilai dari segi ear-catching: easy, medium, dan hard.

Tracks dalam kategori easy bakal dengan mudah disukai pendengar. Bagian ini tidak hanya diisi oleh lagu dengan tempo lambat, namun juga yang up-beat. Dua lagu yang telah dirilis sebagai senjata single, dan sebuah lagu “bonus” pre-order secara mengejutkan memang masuk di kategori ini—Fireproof, Steal My Girl, Night Changes. Hal ini semakin mendukung fakta bahwa pihak label memang selalu cerdas dalam memilihkan lagu awal untuk dilepas. Selain tiga lagu tersebut, ada empat track lain yang juga masuk dalam kategori easy: Ready to Run, Fool’s Gold, Girl Almighty, dan No Control.

Secara tempo, Steal My Girl, Ready to Run, Girl Almighty, serta No Control membawakan musik up-beat lengkap dengan bunyi dentuman dan efek digital yang memang sedangtrend. Sedangkan Fireproof, Night Changes, dan Fool’s Gold tampil lebih slow pun kalem. Namun begitu, ketujuh track easy sama-sama memiliki lirik yang membawa kesan menyenangkan, layaknya permainan.

Kategori medium berisikan tiga lagu yang tidak bisa langsung disukai, namun juga tidak dengan cepat bisa ditinggalkan. Spaces, Where Do Brokenheart Go, dan 18. Perpaduan alat musik reguler dan digital masih imbang di sini. Pun lirik yang dibawa tetap menyenangkan.

Di kategori hard, saya mendapati kesulitan untuk langsung menyukainya. Ada dua tracks:Stockholm Syndrom dan Clouds. Di sini musik digital terdengar paling kental, bahkan vokal yang coba ditawarkan semacam tidak sinkron dengan backsound-nya, tumpang tindih dan terdengar penuh teriakan.

Mengenai campur tangan member One Direction, terdapat sepuluh dari 12 lagu yang juga ditulis oleh mereka. Duet Louis dan Liam memuncaki daftar ini, terdapat empat lagu karya mereka berdua: Steal My Girl, Fireproof, Spaces, dan Clouds. Sedangkan Harry dan Louis sama-sama menulis dua lagu. Harry dengan Where Do Brokenheart Go dan Stockholm Syndrom. Louis dengan Ready to Run serta No Control. Secara keroyokan, 1D menulis dua lagu Night Changes dan Fool’s Gold. Dari segi pembagian suara, sejak Midnight Memoriesmemang sudah terkesan merata, hal itu kembali diterapkan untuk Four. Di album ini pula, Ed Sheeran kembali menyumbang satu lagu tulisannya, 18 (eighteen).

Secara keseluruhan, Four bukan lah album yang meluncur semulus album pertama, kedua, bahkan ketiga. Masih ada beberapa ganjalan dari sisi kemasan maupun sodoran lagunya. Namun meski begitu, hal-hal mengganggu tersebut tidak perlu terlalu dipermasalahkan sebab hanya terkesan minor. Toh, pihak studio sekali lagi menjadi sangat cerdas dengan memilihkan dua lagu sebagai single pertama: Steal My Girl dan Night Changes.


ANJALI DETHA S

XI MIPA 3